Rabu, 26 Maret 2014

Menikmati Kopi Pagi dengan Secangkir Teh

ADALAH buku lama yang terserak di lantai dengan bandrol harga Rp. 5000,- pada sebuah pameran buku di Jombang sekitar 2 tahun lalu. Sangat ironis memang, buku yang isinya sangat bernas tergeletak atau digeletakan  begitu saja layaknya onggokan koran bekas. Mungkinkah ini gambaran dari realitas masyarakat kita terhadap dunia literasi yang kata banyak ahli, lumpuh membaca dan apalagi menulis? Entahlah. Yang jelas buku ini isinya sangat menarik, setidaknya bagi saya.

Senin, 17 Maret 2014

Ketika PSK Mengaplikasikan Strategi Diskriminasi dan Diskon Harga

BUKU SuperFreakonomics ini sebenarnya buku yang sudah lama saya beli, yaitu sekitar 4 tahun lalu. Ketertarikan saya pada buku ini bukan saja karena "nomics"-nya, tetapi lebih pada karena "SuperFreak"-nya sehingga menjadikan "nomics" begitu mudah difahami tanpa harus dibuat pusing tujuh keliling. Selain itu, bahasa yang ditampilkan juga sangat renyah sehingga mudah untuk "dikunyah". Wajar saja, karena penulisnya adalah kolabarasi antara seorang ekonom dengan seorang jurnalis.

Jumat, 14 Maret 2014

Surat Buat Presiden SBY dari Warga Riau

Foto: merdeka.com
TERCENUNG juga sejak kemarin mendapati tulisan yang sangat 'menarik' perhatian saya diberbagai media, sebuah surat dari warga Riau yang hari-hari terakhir dilanda kabut asap namun hampir luput dari pemberitaan apalagi penanganan, tenggelam oleh hiruk pikuk berita-berita politik dan "sebangsanya". Surat itu beredar sedemikian cepat dan termuat di banyak media online maupun jejaring sosial dan forum-forum diskusi. Isinya sangat jelas menohok hati (jika masih punya hati) pemimpin negeri ini, dan dengan jelas mempertegas bahwa masalah asap tak sekadar masalah terbakarnya hutan atau lahan, tetapi lebih dari itu terkait dengan banyak hal, semisal keserakahan, ketidakpedulian negara, dan kepongahan Jakarta menjadi tudingan serius penyebab asap.

Selasa, 11 Maret 2014

Deteksi Ekonomi: Ketika Harga Secangkir Kopi Lebih Mahal

MEMBACA buku ekonomi (akademis), seringkali kening kita dibuat berkerut karena suguhan grafis, angka-angka, dan rumusan matematis yang menjelimet, yang memang semua itu adalah roh dari ilmu ekonomi. Namun, dengan buku ini, kita akan mendapat suguhan yang jauh berbeda. Buku ini memaparkan fenomena ekonomi dengan renyah dan santai, sesantai kita menikmati kopi di pagi hari. Dalam buku ini kita akan menjumpai masalah kesenjangan antar negara tanpa harus ada grafis-grafis dan angka-angka untuk menjelaskannya. Atau kita akan dihadapkan pada persoalan eksternalitas yang dalam bahasa ekonomi (akademis) sangat menjelimet pemaparannya, namun dalam buku ini dibuat sederhana dan tak ada angka-angka ataupun rumusan matematis.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya
Jombang, East Java, Indonesia
I was born and grew up in Wonosalam. Lives in Malang. Only a "pencangkul" and coffee lovers, coffee addicts even.

Pengikut