Selasa, 15 Juli 2014

Safari Cinta Sang Pencari Cinta

JIKA ingin belajar memaknai cinta dan rindu yang sebenarnya, bukan cinta dan rindu yang sekadar terkait dengan masalah sensualitas atau rasa melankolis yang dialami dua insan lain jenis, maka bacalah buku ini dengan mata elang dan kedalaman hati serta cadangan otak untuk berfikir dalam menapaki aksara demi aksara, kata demi kata yang dituangkan oleh penulisnya.

Dari tulisan-tulisannya yang mengalir ini berbagai teks realitas cinta muncul tanpa batas. Misalnya “Akulah Cinta”, penulis dengan menggandeng Jalaludin Rumi, mengajak pembaca untuk menyusuri labirin jiwa sehingga sampai pada kesimpulan betapa cinta yang paling indah dan paling dahsyat adalah cinta yang dilandasi oleh kecintaan pada Sang Mahacinta, bukan sekadar cinta yang dilandasi sensualitas lawan jenis.

Betapapun, Engkau tak pernah mencintaiku. Tetapi, aku mencintaimu. Pada setiap rasa yang tertolak, ada luka. Pada setiap cinta yang tak terungkap, ada sesak. Dalam setiap harian patah, ada perih. Namun, hatiku tak pernah perih sekalipun kau tak mencintai aku ...............

Kemudian lewat “Kekasih yang Tak Diinginkan”, penulis menggambarkan bagaimana rupa kerinduan dan rupa cinta dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya juga “tak diinginkan”, bahkan “didinginkan”. Cinta yang tidak membuta, kerinduan yang tidak membiru dan membeku, tetapi kerinduan yang penuh harap-harap cemas. 

Membaca buku ini, kita akan disuguhi safari cinta sang pencari cinta. Kita akan diajak berkelana mencari cinta di Aceh, Jawa, Bali, Sumba, Timor dan di “Bumi Cinta” lainnya. Diajak menyusuri “Hutan di Negeri Kita”, menyinggahi “Taman Penantian”. Kemudian dari “Jatinegara” dan “Stasiun Tugu” kita diajak mengular bersama ular besi Argo Pahrayangan. Dan yang lebih mengasyikan, kita juga diajak mengangkasa dan kemudian landing, transit sementara di Sastranegara, Juanda, Ngurah Rai, Tambolaka, dan El Tari. Sungguh safari cinta yang menyegarkan, laksana menikmati cangkir-cangkir anggur cinta Illahi. Selamat menikmati!

Penulis: Erna Suminar
Penerbit: Leutikaprio
Tahun: April, 2004
Halaman: xvi + 224 hal.



BUKUKU# Ini adalah catatan sederhana dari buku-buku yang saya miliki dan saya baca yang jauh dari kaidah resensi buku sebenarnya, karena hanya terbatas 3-5 paragraf. Untuk resensi buku yang 'sedikit serius' biasanya saya unggah di blog pertama saya DI SINI.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya
Jombang, East Java, Indonesia
I was born and grew up in Wonosalam. Lives in Malang. Only a "pencangkul" and coffee lovers, coffee addicts even.

Pengikut