Senin, 12 Agustus 2013

Jombang Negari Sabrang

Oleh: Sabrank Suparno

Apa keunikan tanah Jombang hingga sedemikian kondang di berbagai daerah sekitar? Kekondangan Jombang baru terungkap ketika orang Jombang dihadapkan atau berada di perantauan. Setiap orang Jombang (pasti) mempunyai pengalaman tersendiri mengenai perlakuan tuan rumah di perantauan. Cak Nasrul Ilahi mengatakan dalam acara Bincang Budaya dengan tema Karakter Masyarakat Jombang pada 26 Desember 2012, di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) B-Mart (depan Undar), bahwa secara umum karakter masyarakat Jombang sama dengan manusia Indonesia lainnya. Tetapi manusia Jombang tetap memiliki sesuatu yang khas dibanding masyarakat luar Jombang.  

Membincang keunikan Jombang, tentu tak sekedar bermegalomania semata pada kehebatan leluhur. Apatah arti nenek moyang super hero jika generasi sekarang mbembet [rapuh]. Tentu, hanya melahirkan generasi yang kesehariannya mengelap-elap guci sampai mengkilat. Sedangkan guci tersebut tak dapat mengganjal lapar. Namun tidak salah jika menelisik wawasan mengenai Jombang sebagai voltase energi pemantik untuk menyorong nilai jauh ke depan.

Kata Jombang berarti: tampak elok/cantik [Kamus Indonesia Modern]. Ungkapan ini dahulu digunakan untuk menyebut anak kecil atau perawan jika sudah mandi dan berdandan sore hari. Misal ungkapan,”lho areke wes ketok jombang (anaknya sudah kelihatan cantik). Kata ‘jombang’ juga berarti elok dalam arti ‘sedap dipandang’ secara keseluruhan benda jika memenuhi syarat disebut elok. Antara lain: pemandangan nan jombang , kelakuan yang jombang, dan seterusnya berarti pemandangan nan elok, kelakuan yang elok. Karena rujukan kata Jombang berasal dari bahasa Jawa, maka tidak heran jika ada nama desa yang sama dengan Jombang. Misal di daerah Kediri, di Madura dan kawasan sebelah barat Paiton, Situbondo, dll.

Kaitannya dengan nama kabupaten Jombang, versi yang umum merujuk pada legenda Kebo Kicak Karang Kejambon. Yakni pertarungan dendamkesumbar yang berkesinambungan antara Joko Seger pemuda yang berjuluk Kebo Kicak dari desa Karang Kejambon dengan pemuda Surontanu asal desa Bantengan yang berjuluk Banteng Surontanu. Pertarungan dua pendekar tersebut dipicu perebutan ‘teracak kencono, (tapak kaki kencana). Kebo Kicak pendekar berkarakter Karbau, sedang Banteng Surontanu berkarakter Banteng/Sapi. Cerita ini mirip dengan lakon Wayang Kulit yang mengisahkan pertarungan antara Lembu Sura (Raja Sapi) dengan Mahesa Sura (Raja Kerbau) yang keduanya bersaing mempersunting Dewi Toro, bidadari terjelita di kahyangan

Tempat-tempat pertarungan, pelarian dan persembunyian antara Kebo Kicak dengan Banteng Surontanu inilah yang melahirkan nama-nama desa di wilayah Jombang. Nama desa yang dilahirkan kedua pendekar tersebut menjadi garis teritorial yang membelah wilayah Jombang menjadi dua bagian, yakni Tenggara dan Barat Laut dengan posisi geografis berawal dari Barat Daya ke Timur Laut dan melintasi kota Jombang sebagai titik tengah.

Di Barat Daya, pertarungan bermula di kali Brantas wilayah Kediri yang kemudian merembet ke arah Timur Laut melewati daerah antara kecamatan Gudo dengan kecamatan Perak. Sebut saja di antaranya serentetan desa Banyuarang, Tebon, Brambang, Cukir, Pagerwojo, Ngaren, Pedes, Temuwulan, Ngrandu, Jombang, Mojongapit, Kepuh Kembeng, Kejambon, Bantengan, Bongkot, Kates, Dero, Randuwatang, Sambigelar, Kandangsapi, Kedungmacan, Kedungbetik, Garu, Podoroto.

Dari garis pangkal pertarungan Kebo Kicak dengan Banteng Surontanu di Mojo Kambang (dekat Bra’an) perbatasan Kediri hingga ujung akhir pertarungan di desa Podoroto[Kawasan Rowo Majenang], posisi  Jombang adalah titik tengah. Dalam versi Kebo Kicak tersebut nama Jombang muncul dari pertarungan yang terjadi di lokasi rawa Mojo Kambang. Dalam pertarungan di Mojokambang ini kedua pendekar tenggelam ke rawa. Tak lama kemudian muncul cemlorot sinar dua warna, yakni ijo dan abang. Sejak itulah sekitar tempat ini dinamakan Jombang.

Selain nama-nama desa di Jombang dilahirkan dari Babat Kebo Kicak, ada juga nama tempat yang dilahirkan zaman Babat Para Raja: Kahuripan, Dhoho, Panjalu, Singosari, Majapahit, Demak, Pajajaran Kuno. Namun yang menjadi ciri khas masyarakat Jombang justeru dari Babat Singosari. Hal ini dapat diteliti dari bentuk dialek masyarakat yang berada pada lintasan penyebaran prajurit Singosari saat merambah wilayah Jombang. Lintasan Babat Singosari berposisi berseberangan dengan Babat Kebo Kicak. Yakni masuk ke wilayah Jombang dengan jalur turun dari Kandangan, Wonosalam, Bareng, Ngoro, Mojowarno, Jogoroto, Peterongan, Jombang, Tembelang, Sumberagung hingga ke Plandaan. Dialektika masyarakat Jombang pada jalur Babad Singosari apa yang disebut Ayu Sutarto sebagai Budaya Arek. Yakni memakai kata ‘arek atau rek’untuk menyebut inisial orang.

Sebelah timur garis Babat Singosari dikenal sebagai masyarakat berbahasa kasar {Jawa ngoko] dan jelas menggunakan kata ‘arek’. Sedang masyarakat sebelah barat tak jauh beda dengan orang kulonan (Kediri, Nganjuk, Madiun, Solo dll) yang menggunakan panggilan ‘kang’. Dalam hal ini Ayu Sutarto berpendapat ‘meraba’mengenai Jombang yang hanya melihat dari kacamata kesenian ludruk.

Ada banyak pakar yang tidak benar-benar jombangi, mereka berdiri di luar pagar dan berkomentar dari jauh. Atau juga pakar asli Jombang namun besar dan hidup diperantauan. Pakar yang tidak memasyarakat. Sehingga tidak paham betul bagaimana dialek masyarakat Jombang ketika di sawah, di pasar dan di rumah. Setiap tempat aktivitas ada istilah guyonan yang berbeda-beda. Panggilan ‘Cak’ misalnya, hanya umum dipakai arek kidule kali [kali yang memanjang dari barat ke timur melewati Tembelang, Tanjunggunung, Bongkot, Gebangsari, Menturo, Sebani, Tenggor dst]. Sedang arek lore kali umum menggunakan panggilan ‘Guk’/Gok.

Karakter arek lore kali pun berbeda dengan arek kidule kali. Arek lor kali dikenal sebagai orang yang pateng mergawe (giat bekerja ke sawah). Ini dapat dilihat dari kebanggan orang kidule kali jika mendapat menantu orang lor kali. Entah menantu laki-laki atau perempuan, orang lore kali dikenal akas nyang sawah. Begitu juga dalam hal bertutur, arek lore kali menggunakan intonasi repetitif untuk memperjelas panggilan seseorang, misal: Gok Min Paimin, Cak Jo Paijo. Repetitif dimaksudkan supaya tidak menjawab ulang jika ada pertanyaan: Gok Min yang mana? Dijelaskan sebelumnya Gok Min yang Paimin. 

Sebelah timur garis Babat Singosari inilah sesungguhnya apa yang disebut tanah ‘Brang Wetan’(Seberang Timur) pulau Jawa yang dikenal wong etanan [wong wetan berbeda presisi makna dengan wong Jawa Timur yang diawali dari Ngawi, Magetan, Ponorogo, Bojonegoro dan Pacitan]. Karakter Wong Wetan dengan ciri khas sebutan arek hingga ke wilayah Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Sebutan arek berakhir di masyarakat Tapal Kuda yang didomsili bukan penduduk asli suku Jawa, melainkan perantau suku Madura.

Garis Babat Kebo Kicak dan Babat Singosari dengan titik silang tepat di Jombang Kota inilah menyebabkan Jombang disebut Negeri/Negari Sabrang. Yakni suatu wilayah dengan medium kebudayaan tersendiri dengan posisi sebagai lalu lintas kebudayaan Jawa kulonan [tulen] ke Madura, Oseng dan Bali.

Salah satu ciri penduduk Negeri Sabrang adalah berbahasa kasar, blak-blakan, opo anane, blokosuto, jobo jeruh podoae, menggunakan kata pisuan dancok (kategori pisuan ringan, si mbokne hancok untuk kategori pisuan berat), memakai udeng atau blangkon dengan ujung menyilang di (jithok) kepala bagian belakang [blangkon yang tidak bendol gede seperti Jogja, juga tidak bendol kecil seperti Solo yang keduanya suka berkebudayaan bendol buri], besar tekadnya, tidak peritungan, tuwo lan towo, tidak gumunan, suka humor, gampang menetralisir permasalaan. Ciri lain masyarakat Negari Sabrang adalah melakukan sesuatu berdasarkan keyakinan, bukan berdasarkan kebatinan(cuma dibatin saja), juga bukan sekedar otak, atik, gathuk [Agama Mataraman].

Dalam kajian semantika, baik jombang dalam arti: elok/cantik, maupun jombang dalam arti gabungan dua unsur kalimat: ijo dan abang, keduanya merupakan kata sifat. Dalam kajian lebih mendalam kata sifat menunjukkan kekuatan nilai, yang berbeda kapasitas dengan kekuatan realitas. Sedang substansi nilai keberadaannya lebih berarti dari realitas itu sendiri. Maka, membincang Jombang tidak sekedar dihadapkan pada realitas teks belaka, sebagaimana Board Getz mengitabkan Realisme Magic sebagai kampanye tandingan mistik. Apalagi jika jargon Realisme bendera faktual dikibarkan sebatas proyek institusi tertentu.

Artinya, jika membincang Jombang lebih gamblang sebaiknya yang bukan orang Jombang, atau orang Jombang yang cumbu-cumbu laler silahkan mingkem! Jangan sampai puluhan pakar umek berkerumun memperdebatkan kucing dalam karung. Arek Jombang tidak mengenal udang di balik rempeyek. 


*) Sabrank Suparno. Peserta Temu Sastra Jawa Timur 2011. Bergiat di Lincak Sastra Jombang. Tinggal di Dowong, Plosokerep, Sumobito.

3 komentar:

  1. mantaaaaf.......bumi yg slma 5 thun djadikn tmpat mnimba ilmu trnyta penuh dg keunikan...I LOVE JOMBANG...

    BalasHapus
  2. ini jeneng e artikel apik gok. josss

    BalasHapus
  3. ini jeneng e artikel apik gok. josss

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya
Jombang, East Java, Indonesia
I was born and grew up in Wonosalam. Lives in Malang. Only a "pencangkul" and coffee lovers, coffee addicts even.

Pengikut