Jumat, 20 Juli 2012

Kuwen

Cerpen: Siti Sa'adah

SIAPA berani mengartikan sabda nabi surga ada di telapak kaki ibu secara harfiah? Mungkin akulah yang pertama. Barang siapa berani membantah atau menertawakan, langsung kusodorkan bukti nyata ini.

***


Aku sedang tertimbun kenikmatan di surga, tetapi siapa yang akan percaya? Karena teman-teman dan familiku yang masih tertawa-tawa di dunia tidak bisa melihat kondisiku sekarang. Seadainya ada rekam fisik pasti akan kukirim kepada mereka, tapi sepertinya belum bisa terwujud, untuk sementara biar cerita ini saja, mengapa aku bisa berada di surga melalui kaki ibu.

Jangan sampai kau berfikir, selama hidup aku beribukan wanita yang kejam dan aku rela diinjak-injaknya sampai aku tidak tahan. Mati. Kemudian seperti kejadian kemarin, aku dituntun masuk surga oleh malaikat penjaganya, (apa kau tahu mengapa aku menggunakan kata dituntun? Karena selama hidup aku tidak tahu jalan ke surga!), atau karena aku beribukan wanita lumpuh dan aku harus menggotong kaki ibu beserta badannya sehingga aku yang sebenarnya mati karena over menenggak bir ini bisa masuk surga!

Aku yang sering menyepelekan sholat, bagaimana berani mengharapkan surga?! Tidak pernah terbersit sama sekali. Dulu yang kucari hanya surga dunia. Bagaimana aku bisa mereguk kenikmatan hidup tanpa batas. Sudah, itu saja. Bahkan memikirkan bagaimana nasibku setelah matipun tidak pernah.

Aku memang mursal selama hidup. Aku yang diberi kekuatan fisik hanya suka memalak saudara dan teman-temanku. Mereka mau menyerahkan uang atau barang berharga yang kuminta karena takut badan kekarku. Aku hanya mengurusi kenikmatan hidup tanpa mau bersusah-payah. Tidak ada yang berani melarang, mungkin capek mengingatkan, sampai akhirnya pasrah dan berkata, “Kau sudah besar, urusi keinginanmu dan urusi sendiri akibatnya. Kalau masuk neraka jangan cari-cari aku.”

Begitulah ucapan bernada pasrah kakakku saat aku tertangkap orang kampung karena hampir membuntingi Salamah anak tetangga. Sedangkan ibuku, wanita penuh kesejukan karena terlalu sabar itu hanya menangis sambil mengelus kepalaku.

Setelah kejadian memalukan itu, aku tidak pernah menggoda Salamah lagi, karena beberapa hari kemudian dia dinikahkan. Huh, sebenarnya aku mau menikahinya, dia dan keluarganya saja yang muak kepadaku. Padahal aku bisa melindungi dan menafkahinya, tidak perlu mempermasalahkan dari mana uang itu, yang pasti uang palakan selalu siap mengucur. Tapi masa bodoh, masih banyak gadis di sekitarku. Namun begitu aku mencoba mendekati mereka langsung lari, mungkin kegagahanku begitu mengerikan, atau mereka minder akan pesonaku? Entahlah. Yang jelas aku masih bujang saat mati.

Saat akan dibawa ke surga, aku bertanya kepada malaikat, “Bagaimana bisa aku masuk surga?”

“Mengapa kau banyak cakap?” Pasti malaikat satu ini lelah meladeni begitu banyak manusia yang ingin masuk surga. Tapi tidak mungkin, tidak ada malaikat lelah dalam menjalankan tugas dari Tuhan, toh bukan dia yang menentukan seseorang dijebloskan ke neraka atau dimanjakan di surga.

Tangannya yang lembut merengkuh bahuku, dia menuntunku menuju pintu dari cahaya yang belum pernah kutemui keindahannya.

“Tunggu dulu Malaikat, jawab dulu pertanyaanku.” Aku menahan langkah, masih ada misteri pada perjalanan di akhirat ini.

“Dari dulu kau memang menyimpan benih pembangkang!”

“Tidak salah Malaikat, tetapi saat ini aku adalah tuanmu yang harus kau layani.” Enak saja dia membongkar masa laluku di dunia.

“Baiklah, rupanya kau tidak berhasrat masuk surga.” Malaikat rupawan itu menghela nafas. Sejenak terdiam, seperti merangkai kata yang indah untukku. Aku redam rasa penasaranku dengan duduk dekat pintu surga. Kutunggu mutiara berwujud kata tumpah dari mulutnya.

“ Apakah kau pernah membahagiakan ibumu?” Aku heran mengapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu.

Spontan kujawab, “Tidak, justru sering membuatnya menangis.”

“Pernah!” Sergah malaikat itu.

“Kalau tahu mengapa bertanya?! Langsung jawab saja!” Aku jengkel juga. Rupanya dia mau berteka-teki.

“Dari dulu kau memang malas berfikir.”

“Aku memang merasa tidak pernah membahagiakan ibu, Malaikat!”

“Coba kau ingat. Mengenai ibumu, bagian tubuh manakah yang paling kau ingat?”

Saat itu kucoba memutar memori tentang ibu. Wajahnya yang gelap dan keriput, tubuh gemuk dan perut buncitnya sampai tidak bisa membersihkan kak…..

 “Jempol kaki! Ya, jempol kaki!” suaraku histeris, “Jempol kakinya yang penuh nanah!”

Aku ingat, hampir setiap malam, sepulang aku dari berkelana seharian, ibu mengeluh jempol kakinya bengkak, dan dia kesulitan membersihkannya karena terganjal perut buncit dan matanya sudah tidak awas. Saat itulah aku sering membersihkan nanah yang menggumpal di jempol kakinya. Meski sering menyakiti hatinya, rupanya aku tidak tega melihatnya kesakitan.

Aku terhenyak, bagaimana bisa. “Jadi benar ada surga di kaki ibu?” aku masih bingung, mencoba menghubung-hubungkan kuwen dan surga.

Seharusnya aku tidak perlu pusing memikirkan mengapa aku bisa sampai di surga, tapi tidak bisa seperti itu, ini masih menjadi misteri bagiku.

”Kuwen ibu yang kotor dan busuk, sampai-sampai saudara-saudaraku tidak mau membersihkannya...” Aku bergumam. Masih ragu, suaraku mengambang.

”Justru karena itu!” Wajah malaikat itu semburat cahaya. Rupanya dia sudah puas berteka-teki.

Bukan malah lega, tapi aku menjadi tidak berdaya. Tiba-tiba dadaku sesak. Padanganku memburam, seperti ada air yang membandang di mataku, aku ingin berteriak, ibuuu!!

”Tidak bisa malaikat! Tidak bisa!” Aku kalap. Kucengkeram baju kebesarannya.

”Tidak bisa bagaimana?”

”Pokoknya tidak bisa. Aku tidak bisa enak-enakan di sini hanya karena membersihkan jempol kaki ibu.” Malaikat itu tampak kebingungan.

”Aku harus mengajaknya sekarang....”  Suaraku parau. Tubuhku jadi lemas. Aku ingat ibu yang sehari-harinya susah mencari uang di pabrik tahu milik Haji Dloiri. Dia tetap berusaha mandiri dalam kerentaannya. Menggoreng tahu untuk dijual Haji Dloiri ke pasar kota. Pekerjaannya merendam kedelai itulah yang membuat kakinya...oh, yang bau tidak hanya jempol kakinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Bau asap penggorengan tahu, tahu mentah, limbahnya yang busuk...

”Ibu..aku tidak mau di surga!!” aku memberontak dari kenyataan. Dengan sisa tenaga aku berlari. Terus berlari tapi tidak tahu harus ke mana. Pintu indah bercahaya semakin jauh, kenikmatan di dalamnya menjelma hantu di benakku. Terlalu indah dan tinggi bagiku, aku tidak berani berada di dalamnya, berkumpul dengan orang-orang yang selama di dunia gigih mengharapkannya dari setiap gerak amal. Apalah diriku yang tak pernah berusaha ke sana. Saat dihadapkan kenyataan seperti ini aku tidak sanggup.

Kakiku tidak mau berhenti. Aku harus mencari ibu. Dialah yang menyebabkan aku di sini. Menjadi ketakutan seperti ini. Tapi tentu ibu belum sampai ke tempat dan masa yang sedang kulalui ini. Dia masih hidup saat aku meninggal karena mabuk berat dan over dosis.

Aku lelah, apa sebenarnya yang tejadi kepadaku ya Tuhan, bukankan surga seperti yang pernah diceritakan ustadz di televisi yang kutonton secara tidak sengaja bahwa surga begitu indah dan nikmat tanpa batas selama hidup di dalamnya. Surga yang menjadi muara segala amal kebajikan. Sedangkan aku, kebajikan macam apa yang kupunya? Hanya membersihkan kuwen ibu? Bukankan kebejatanku lebih banyak?! Aku ingin mati saja jika seperti ini. Tapi aku sudah mati! Dan oh, bukankah setelah mati di dalam kubur akan ditanyai malaikat Munkar Nakir. Mengapa aku langsung dituntun malaikat ke surga, sedang aku tidak bisa menikmatinya... Menginjak pintunya saja aku tak sanggup.

Akhirnya aku lelah juga. Langkahku surut. Aku bersandar pada pohon asing yang aku tidak tahu namanya, belum pernah selama di dunia aku menemui pohon seperti ini. Daun-daunnya seperti lembaran kertas terlipat. Seperti amplop. Warna-warni. Seketika lelahku lenyap. Aku takjub, pelan aku bangun dan melangkah pelan dengan rasa was-was. Penasaran dan takut bergumul dalam hatiku. Kejadian apalagi yang akan menimpaku?

Aku tak sanggup membendung penasaran yang terus mendesak-paksa tanganku untuk menyentuh pohon ini. Kulitnya lembut seperti beludru dari bulu merak, begitu tersentuh, cahaya warna-warni menyergap mataku, sungguh indah. Kucoba mencium telapak tangan setelah menyentuh, wangi. Tidak, ini bukan sekedar wangi, tapi muara segala wangi. Tiba-tiba aku terhenyak mendapati daun jatuh tepat di telapak tanganku. Kucermati tulisan yang berpendar, aku kembali menggigil ketakutan. Surat dari ibu untuk aku, Ainul Yaqin.

Khushushon ilaa ruuhi anak kulo Ainul Yaqin, duh gusti Alloh, njenengan lebur sedhoyo dhusho anak kulo. Anak ingkang berbakti kale kulo. Anak ingkang kersho ngilangaken sakit kulo. Njenengan paringi suwargo amergi keikhlasanipun...njenengan lebur dhusho anak kulo tanpo khisaab... amiin.

Surat berisi doa. Ternyata ibu mengirim doa setiap selesai sholat. Tanpa henti. Untukku. Aku bergeming, aku malu ibu...

Kilatan cahaya tiba-tiba menyambarku. Tubuhku seperti angin, bergerak begitu cepat. Begitu diam, aku sudah di ambang pintu penuh cahaya. Malaikat yang menuntunku sebelumnya menyambutku dengan senyum penghormatan. Hatiku tetap saja galau, takut, malu, menyesal menderu-deru. Dituntunnya aku memasuki pintu keabadian ini. Benarkah aku akan abadi dalam surga kenikmatan sedang aku tidak bisa tenang. Masih ada ruang hampa dalam hatiku. Sebenarnya apa yang kuperlukan?

***

Jadilah benar-benar aku tidak pernah memprediksi bisa sampai seperti ini, masuk surga dan menikmati segala fasilitasnya. Namun tetap seperti pada mulanya, hatiku tetap saja galau, takut, malu, menyesal menderu. Eh sebentar, ceritaku bersambung sampai di sini saja, ada bidadari merajuk ingin dilayani. Mereka seperti pengantin baru saja, selalu berhasrat. Tidak pernah puas dengan sikap dan perlakuanku, tapi aku tidak terlalu peduli. Masih ada ruang hampa dalam hati yang kupenuhi tangisan. Setiap waktu teringat ibu dan do’anya untukku. Sebenarnya apa yang kubutuhkan Tuhan?!

***

Catatan:

Kuwen            :Kotoran di sela-sela kuku jempol kaki, kadang berupa gumpalan nanah dan berbau busuk. Di daerah Lamongan di sebut iring-iringen.

Cerpen ini dimuat koran Surabaya Post, 25 Juli 2010.

Siti Sa’adah, lahir dan tumbuh di Jombang, penjaga warung kopi di dusun Gebangmalang desa Bandung kec. Diwek. Pelayan di perpustakaan MTs-MA Al-Anwar Paculgowang. Bergiat di komunitas PSK (Penggila Sastra Kopi) dan Lembah Pring. Beberapa tulisannya dimuat di Surabaya Post, Radar Mojokerto, Radar Bromo, Majalah Mimbar, Majalah Misal, Buletin Hysteria Semarang. Kompas.com, dan Republika. Cerpennya Barka termuat dalam antologi cerpen bersama penulis-penulis Jombang Hujan Sunyi Banaspati (Dekajo Komite Sastra, 2010). HP; 085731297922. Email:  bejodaroini@yahoo.com.

7 komentar:

  1. Kode verifikasi mbok diguwak mas, ngrepoti ae

    BalasHapus
  2. Menarik sekali untuk disimak...
    Kebaikan sekecil apapun ada nilainya...

    BalasHapus
  3. bersyukurlah yang masih memiliki Ibu,
    cerpen yang bagus ...

    BalasHapus
  4. enaknya yang massih punya ibu...
    :'(

    folbek mas..
    heheh

    BalasHapus
  5. cerita yang sungguh menakjubkan.... dikemas dengan gaya bahasa yang simple dan mudah dimengerti, tapi hikmah yang terkandung di dalamnya, tertangkap dengan jelas.

    keren deh!

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mengenai Saya

Foto saya
Jombang, East Java, Indonesia
I was born and grew up in Wonosalam. Lives in Malang. Only a "pencangkul" and coffee lovers, coffee addicts even.

Pengikut